Komposter: Mulai dari Memakan Sampah dan Menghasilkan Oksigen Sendiri
Kesalahan kedua saya adalah, saya terlalu sempit memaknai komposter hanya sekedar teknik untuk membuat pupuk kompos yag berguna untuk menyuburkan tanaman. Atau karena sekarang banyak sekali pupuk kimia, kompos hanyalah substitusi dari sekian banyak pupuk yang bisa kita gunakan. Yah begitulah pemahaman saya tentang komposter diawal. Saya berpikir bahwa dikelas ini bersama salah satu pembina KBA Sunter Jaya, saya hanya akan belajar membuat kompos seperti di kampung-kampung dan kelas-kelas PKK. Dan kesalahan besarnya adalah, karena ternyata komposter, berbicara lebih jauh dari itu.
Komposter mengajarkan untuk bertanggungjawab atas sampah yang kita hasilkan, mengolahnya hingga menjadi oksigen yang kita hirup. Bahkan komposter, mengamankan sekian banyak anggaran kita untuk mengolah sampah. Nah loh kok bisa yah.
Mari kita mulai cerita ini!
Katanya, Manusia Makhluk Hidup yang Serakah
Konon dulu Albert Camus pernah mengatakan jika, pertumbuhan manusia dimasa depan tidak berjalan seiring dengan pertumbuhan makanan yang ada di muka bumi. Kita bisa lihat contohnya sekarang bukan? Dan parahnya lagi sebagian besar SDA kita malah ditebang dan dijadikan beton-beton yang menjulang tinggi. Atau paling tidak, dibakar untuk dijadikan tanaman pabrikan lainnya. Wajar memang, kita tidak bisa menolak untuk banyaknya jumlah manusia dimuka bumi. Sebagaimana kita tidak dapat menolak juga, cara dan teknologi manusia untuk memperoleh makanan sekarang semakin kreatif.
Makanan yang dulu bisa basi dalam satu hari, sekarang bisa diawetkan dengan bahan kimia tertentu. Inii kabar baik, karena menyelamatkan makanan kita. Sayangnya, hal tersebut tidak membuat angka kelaparan menjadi berkurang. Tidak perlu jauh-jauh untuk melihat statistik. Disebelah kita saya, masiah banyak anak-anak yang kelaparan dan menderita busung lapar. Sementara orang lain yang didekatnya, kekenyangan makanan, hingga tengah membuangnya sembarangan dan menjadi sampah. Baiklah, kita juga tidak bisa menghakimi mereka sepenuhnya. Tapi tanpa sadar, perlahan gaya hidup membuat kita menjadi pekomsumsi yang lupa untuk peduli pada sesama.
Parahnya tidak hanya mulai hilang kepedulian, konsumsi yang berlebihan membuat kita semakin banyak menghasilkan sampah. Apakah itu berupa sisa makanan, plastik, botol kaca dan lainnya. Dan beberapa pekan dan waktu kemudian, sampah-sampah kita menjadi masalah, tidak hanya bagi kita, tapi juga bagi orang lainnya, yang sepatutnya tidak menerima dampak dari sampah kita.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyampaikan jumlah timbulan sampah secara nasional sebesar 175.000 ton per hari atau setara 64 juta ton per tahun jika menggunakan asumsi sampah yang dihasilkan setiap orang per hari sebesar 0,7 kg. Dalam satu jam, tumpukan sampah dapat menutupi setengah dari tinggi Monas (132). Dan dalam 10 tahun, 640 juta ton sampah dengan total sampah yang diproduksi di seluruh indonesia dapat menimbun sebagian kota Jakarta. Tumpukan membentang dari Thamrin hingga Senayan dengan tinggi tinggi 5 kali Monas. (katadata.co.id)
Sampah yang diproduksi paling banyak didominasi oleh sampah sisa makanan dengan komposisi 60%. sisa makanan, sayuran, hingga tumbuhan masuk pada kelompok ini. Selanjutnya, sampah plastik menempati posisi kedua dengan 14%, kelompok ini terlihat lebih beragam mulai dari botol, kantong plastik, sedotan, dan berbagai kemasan yang berasal dari bahan plastik. Sisanya, terdapat sampah kertas, karet, logam dan sampah lainnya.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2019 mengumumkan sekitar 72 persen masyarakat Indonesia kurang peduli dengan masalah sampah. Masyarakat umumnya tidak peduli dengan sampah plastik.
Selama ini Kita Hanya Membuang Sampah pada Tempatnya
Berdasarkan riset yang dilakukan Sustainable Waste Indonesia pada 2019, total sampah Indonesia yang didaur ulang hanya 3 persen dan sisanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), singkatan yang sering kita pakai. Namun benarkah kita sudah membuang sampah pada tempat yang tepat yaitu TPA?
Singkatan TPS dan TPA muncul dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan Sampah dan beberapa peraturan menteri lingkungan hidup dan menteri pekerjaan umum yang merupakan peraturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
TPS adalah singkatan dari Tempat Penampungan Sementara yaitu tempat sebelum sampah diangkut ke tempat pendauran ulang, pengolahan, dan/atau tempat pengolahan sampah terpadu. Sedangkan TPA adalah singkatan dari Tempat Pemrosesan Akhir yaitu tempat untuk memroses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan.
Kesalahan prespesi ini seringkali membuat kita menganggap bahwan kita hanya perlu untuk membuang sampah pada tempat. Tanpa paham, kemana selanjutkan sampah itu akan dibuang jika sudah kita buang pada tempatnya. Akhirnya berakibat pada tingginya volume sampah di TPA, yang pada satu waktu akan menghasilkan cairan lindi (sampah), yang akan meresap kedalam tanah dan mengotori air bawah tanah. Air lindi ini tentunya mengandung banyak sekali penyakit.
Pola pembuangan sampah di Indonesia yang hanya mengumpulkan sampah perlahan harus mulai dirubah. Di Tokyo, sampah yang dikumpulkan ditempat sementara akan dikirim ke titik pengumpul masing-masing yang kemudian akan disalurkan kepada masing masing recyling center untuk langsung diolah. Hal ini membuat sampah bertumpuk lebih sedikit dibanding dengan sampah yang hanya sekedar dibuang saja.
Berdasarkan apa yang dikatakan Sutarno, Pemda
DKI saat ini mengelontorkan dana 300 M pertahuan untuk membayar pemerintah Bekasi, hanya untuk membuang sampah masyarakah ke Bantar Gebang. Itu masih sampah yang dikumpulkan menjadi landing. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jenna R. Jambeck dari University of Georgia, pada tahun 2010 ada 275 juta ton sampah plastik yang dihasilkan di seluruh dunia. Sekitar 4,8-12,7 juta ton diantaranya terbuang dan mencemari laut. Dan Indonesia peringkat keempat penghasil sampah plastik di dunia.
Memakan Sampah, Menghasilkan Oksigen Sendiri (cerita KBA Astra)
Tahun 2015 Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan verifikasi terhadap RW 01 Sunter Jaya, sehingga pada hari lingkungan hidup tahun 2016, RW o1 sunter jaya resmei dinobatkan menjadi kampung Proklim nasional tiper perkotaann
Lepas dari semua tumpukan sampah yang banyak itu, yang mungkin kalau dikumpulkan akan mencatatkan satu nama gunung tertinggi di negeri ini, seseorang hadir dalam rimba belantara sampah dengan pandangan uniknya tentang sampah. Adalah Sutarno yang pada hari itu mengatakan bahwa sampah adalah rezeki, “Jika selama ini kita menganggap sampah ada bau, kotor, jijik, masalah. Bisa tidak kita anggap sampah itu membawa rezeki anik, RT hijau, dan lansia bugar?” ujarnya dalam pemaparan materi kelas komposter di kantor RW 01, Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Sabtu (21/12).
Pertanyaan Sutarno tersebut seketika membuat tanda tanya dipikiran saya? Apa yang dimaksud oleh beliau. Apakah sampah sebagai masalah dinegeri ini bisa disulap menjadi pundi-pundi uang. Mungkin ia, sederhananya seperti yang dilakukan oleh pengumpul-pengumpul sampah. Tapi apakah kita harus mengumpulkan sampah, seperti mereka yang mengantungkan hidupnya disana.
Agaknya saya berpikir terlalu jauh. Lebih lanjut Sutarno menjelaskan bahwa sebenarnya sampah menjadi masalah atau rezeki tergantung dari bagaimana cara kita memandang dan memperlakukannya. Selama ini kita tidak mau mengurus sampah karena itu bau dan jijik. Padahal jika kita bisa mengelolanya dengan tepat, sampah itu bisa tidak bau. “Lalu bagaimana caranya agar sampah tidak bau?” tanya mantan guru swasta yang mulai aktif mengolah sampah ditempah tinggalnya sejak 2010 ini (21/12).
Kemudian Sutarno mengangkat satu buah tabung palstik biru besar, ada penutup hitam diatasnya, lengkap dengan beberapa lubang kecil dibagian bawahnya, yang terlihat seperti pipa. “Salah satunya kita bisa menggunakan wadah ini untuk memilah sampah kita,” jelasnya lagi.
Wadah tersebut digunakan untuk menampung sampah-sampah rumah tangga yang organik. Semisal nasi, kulit buah, sayur, daun-daun sampah dapur lainnya. Sampah tersebut dimasukkan kedalam wadah tersebut setiap harinya. Kalau sudah agak penuh kemudian dipadatkan dan diberikan tanah diatasnya. Juga satu botol bakteri pengurai. Kemudian ditutup dengan penutupnya dan dibiarkan selama 3 minggu. Hasilnya, wadah yang didalamnya terdapat pembatas yang berupa saringan, akan dipenuhi oleh air hitam, inilah yang disebut dengan air pupuk. Yang bisa dicampurkan ke air dan disiram ketanaman.
Jika hal itu dilakukan, pertama tidak ada sampah dapur yang keluar. Dan air pupuk tersebut dapat digunakan untuk menyiram tanaman, khususnya tanaman toga yang sebaiknya ada dirumah. Atau menanam sayur-sayuran. Dengan demikian dari sampah bisa kita gunakan untuk tumbuhan yang akan kita makan, dan ini lebih baik karena tidak ada pestisida sama sekali. Kedua, lingkungan menjadi lebih hijau dan menghasilkan oksingen, yang mungkin tengah kita hirup saat ini. Ketiga, setidaknya permasalahan 60 persen sampah rumah tanggah yang dibuang ke TPA Banda Gebang bisa teratasi, Pemda DKI membayar 300 M per tahun kepada pemerintah Bekasi untuk sampah. Mungkin masalah teebut bisa sedikit teratasi.
Sedangkan sampah-sampah non organik, seperti plastik di RW tempat tinggal Sutarno sendiri, ada bank sampah yang berfungsi untuk mengolah lagi sampah tersebut menjadi produk yang lebih kreatif. Jika pada umumnya bank sampah ditempat lain hanya melakukan megumpulkan sampah, menimbang, lalu menjualnya. Sutarno menambahkan satu lagi proses dalam bank sampah ditempat tinggalnya, yaitu merubah benda tersebut menjadi berbagai produk. Jadi prosesnya berubah menjadi, kumpulkan, timbang, dan kemudian oleh menjadi produk bernilai jual dan kemudian baru dijual dengan nilai jual yang lebih tinggi.
Bagi Sutarno, kegiatan harian sederhana yang dilakukan di RW-nya, yang terdiri dari 24 RT. sangat berharga meskipun kecil. Dengan bantuan dari CSR Astra Honda Motor, beberapa kegiatan berlangsung di RW nya, mulai dari perogram Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan dan Kesehatan.
Perlahan dengan kepedulian kecil terhadap sampah, RW 01 Sunter Jaya berubah menjadi kampung yang berseri ditengah riuh rendahnya panasnya ibukota. KBA Sunter Jaya ditetapkan sebagai Proklim (program kampung iklim) berdasarkan kepeduliaanya terhadap hal sederhana tersebut. Dimana tujuan prokloim adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang lingkungan, iklim dan meningkatkan kepedulian masyarakat untuk merawat alam.
Selain itu yang paling penting, melalui KBA dengan banyak programnya yang salah satunya berfokus pada lingkungan, penghijuan. Masyarakat dan banyak orang, termkasud saya yang ahdir, bahwa dengan sampah, kita ternyata bisa menjaga silahturahmi. Sampah mengajarkan kita untuk bertanggungjawab terhadap apa yang kita keluarkan. Bukan dengan membuang tapi dengan mengelolanya. Sampah juga mengajarkan kita untuk hidup dengan ramah lingkungan. Menurunkan suhu bumi, dan kedepannya berharapan anak cucu kita mengenal pohon pohon hijau, bukan hanya gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Dan yang paling berharga bagiku adalah, hari itu aku belajar bahwa “Komposting bukan membuat pupuk. Tapi upaya mengurangi sampah harian kita,” tutup Sutarno, Sabtu (21/12). Satu kalimay itu lantas membuka satu cakrawala baru dalam pikiranku. Ternyata solusinya sederhana sekali untuk masalah kita yang rumit, lakukanlah hal kecil baik itu! Bukan buang sampahmu, tapi olah sampahmu, makan dan bernafaslah dengannya.
#KitaSATUIndonesia #IndonesiaBicaraBaik


Komentar
Posting Komentar